Mantra Ajaib Si Lebah

“Lebih baik naik Vespa”

Inilah slogan abadi bagi Vespa. Bagai sebuah mantra, kalimat sakti ini seolah tak ubahnya kebanggaan Enrico Piaggio, saat memperkenalkan Vespa di tahun 1946.

Tapi, tahukah siapa pencipta slogan itu?
Iklan ini di buat oleh Nuradi, pria kelahiran Jakarta, 10 Mei 1926, uniknya dia tidak memperoleh pendidikan formal di bidang periklanan. Di era 60’an, Nuradi ( yang mendirikan biro iklan InterVista ), melahirkan iklan skuter Lambretta dalam bentuk slide. Iklan Lambretta pun merupakan iklan pertama yang diproduksi untuk dapat ditampilkan di bioskop-bioskop. Ini merupakan prestasi tersendiri pula bagi InterVista. Lucunya, Nuradi bahkan tidak menemukan slogan yang pas untuk Lambretta.

 

Iklan_Vespa_01

Dalam catatan hariannya, Nuradi mengakui bahwa slogan Vespa, tak terlepas dari kekuatan biro iklan miliknya yang terletak justru pada akar budidaya Indonesianya. Pendapat ini mungkin benar, kalau kita perhatikan beberapa slogan yang diciptakan InterVista, seperti:

  • Produk susu kental manis; Indomilk …. sedaaap.
  • Produk bir; Bir Anker. Ini Bir Baru, Ini Baru Bir.
  • Produk rokok putih; Makin mesra dengan Mascot.
  • Produk skuter; Lebih baik naik Vespa…

Satu hal yang menarik dari iklan-iklanya (terutama iklan Vespa), yaitu pemilihan bioskop sebagai ruang media. Pada zaman dahulu, ranah TV tidak memungkinkan menjangkau golongan “fanatik”. Selain karena jumlahnya sedikit, TV dianggap tidak efektif secara segmetasi. Layar yang juga lebih lebar ketibang TV, juga di jadikan alasan Nuradi (yang tidak ingin) iklan yang dibuat sempurna (secara tata warna dan suara) menjadi tidak nyaman untuk dilihat.

Saat ini, iklan Nuradi masih tersimpan di pusat perfilman Usmar Ismail dan Arsip Nasional RI.
(My opinion: Jika “pihak” terkait bisa melindungi dan memelihara iklan Vespa, mengapa “wujud aslinya” tidak ada komitmen?

Gus Dur : Yang tak didapat dari yang sudah ada

Gus Dur

Presiden Abdurrahman Wahid melakukan kunjungan resmi ke Pandeglang, Banten. Pada waktu itu sedang ramai tuntutan pembentukan Propinsi Banten tersendiri, lepas dari cakupan administratif Propinsi Jawa Barat. Dihadapan tokoh-tokoh Banten, termasuk utusan-utusan khusus suku Badui, Presiden membuat pernyataan tegas,

“Saya adalah orang yang paling mendukung pembentukan Propinsi Banten!”

Hadirin bersorak gembira dan bertepuk-tangan panjang sekali.

“Kenapa?” Presiden beretorika, “karena saya ini juga keturunan Banten! Silsilah keluarga saya dan Mbak Mega, Bung Karno, bertemu pada kakek buyutnya Syaikh Muhammad Nawawi Banten, yaitu Maulana Ishaq At Tabarqi…”

Lain waktu, pada perjamuan perayaan tahun baru Imlek, di hadapan tokoh-tokoh kalangan keturunan Tionghoa di Jakarta, Presiden pun lantang,

“Semua orang tahu, dari dulu saya ngotot melindungi dan membela hak-hak kaum keturunan Tionghoa di negeri ini!”

Lagi-lagi tepuk-tangan membahana menyambutnya.

“Kenapa?” lanjut Presiden setelah tepuk-tangan mereda, “karena saya sendiri juga keturunan Tionghoa!”

Hadirin tertawa, mengira beliau sedang bercanda seperti biasa.

“Serius!” Presiden memotong tawa mereka, “Leluhur saya berasal dari Tionghoa, dari she (marga) Tan. Namanya: Tan Kim Han!”

Di Sanaa (Shon’aa), ibukota Republik Yaman, ditengah jamuan kenegaraan menyambut kunjungan resmi Presiden Republik Indonesia, di hadapan Presiden Ali Abdallah Salih dan para tokoh dari qabilah-qabilah utama di Yaman, Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan,

“Ana kaman Yamaani… min Basyaiban!”

(Saya ini juga orang Yaman… dari marga Basyaiban).

Sayang sekali saya tidak ikut serta ketika beliau berkunjung ke Venezuela. Entah apa yang beliau katakan dihadapan para kepala suku Indian pendukung Hugo Chavez disana…

 

Disadur dari : http://kalbukita.blogspot.com/2009/10/diplomasi-ketawa-i-gus-dur-keturunan.html Diplomasi Ketawa (I) : Gus Dur Keturunan mana? (dari note yahya cholil staquf)

Pecandu Pagi, Sheath dan Kenangan

bandungSecara tiba – tiba saya melihat sebuah postingan di jejaring sosial dari seorang rekan yang sedang mendengarkan lagu Sheath, waw…..sudah sangat lama sekali saya tidak mendengar kelompok musik itu, sebuah nama yang sangat familiar dan membuat memori saya berputar ke masa beberapa tahun lalu, masa-masa kuliah, Sheath adalah salah satu band lokal yang sangat saya sukai, bahkan hingga di sekitar tahun 2006 hardisk dari PC saya yang lama rusak, saya rela untuk pergi ke tempat service computer di bilangan Kosambi Bandung hanya untuk sekedar menyelamatkan satu buah folder Mp3 dari kelompok musik Sheath ini, yang hanya berisi 4 file lagu saja, entahlah, sampai sekarang saya masih bingung, ada hal apa yang bisa membuat saya melakukan hal itu. Sebuah folder lagu yang saya dapatkan dari hasil copy file dari PC anak-anak kostan PEJ Jatinangor, fuhh……masa-masa disaat segalanya terlihat mudah dan menyenangkan, dan salah satu masa terbaik dalam hidup saya.

Secara musikalitas, Sheath ini sangat jelas terlihat adalah garda terdepan pengusung musik ber-ambience murung, terlihat dari influence dari para personelnya yang berkisar di ranah music pop 90an yang notabene dimasa itu, kita dibombardir oleh gelombang british invasion, seattle sound, dan music alternative ala negeri paman sam. Musiknya cenderung ke arah dreamy pop, dengan mayoritas diisi iringan suara keyboard pada tiap lagunya dan sesekali disisipi suara harmonika yang melodius menyayat hati, liriknya hampir keseluruhannya berbahasa Inggris.

Sejauh yang saya ketahui, Sheath yang digawangi oleh Oky Bastisan (Oky) pada posisi vocal, Epi Wibawa (Epi) sebagai gitaris, Ghamtarira Sogira (Ghamtha) sebagai bassist, Ashadi Cahyadi (Akung) sebagai pemain Gitar, Dwi Purnomo Fauzi (Ojie) memegang Drum dan perkusi dan Norvan Hardian (Norvan) memainkan Keyboard dan harmonica ini pernah merilis 2 buah album, yaitu : Album “Unspoken Word” (Self-released, 2002), dan Album “Temporary Happiness” (Self-released, 2004), dan sepertinya lagu mereka yang pernah saya miliki dan dengarkan adalah merupakan versi demo dari materi album Unspoken Word, untuk rilisan terakhir dari mereka sendiri yaitu album “Temporary Happiness” bisa kita temukan di iTunes, dan bisa diunduh secara berbayar, tetapi menurut saya itu layak untuk sebuah band dengan musikalitas seperti mereka, daan untuk personel yang disebutkan terakhir akan khusus saya ceritakan sedikit dalam tulisan ini.

Hari ini adalah tanggal ke 27 di bulan Desember penghujung tahun 2013, dan kebetulan juga hari ini saya sedang libur bekerja, tiba-tiba masih teringat postingan dari temen saya itu, dan penasaran apakah saya masih memiliki file music dari Sheath ini, dan dengan penuh rasa kecewa ternyata di storage netbook butut saya ini hasilnya nihil.

Dan ketika saya berbicara mengenai Sheath ini maka ingatan saya takkan dapat dipisahkan dari sebuah nama, yaitu Norvan Hardian alias “Pecandu Pagi” , Nama yang mungkin untuk kalangan penggiat sastra militan dan komikus-komikus D.I.Y bukan nama yang asing lagi, seorang sosok yang menurut saya ultra-kreatif dan jenius dengan banyak karya yang hebat, Bergabung dalam band Sheath dan proyek bermusik lainnya, membuat visual video untuk beberapa band cutting edge dan passion terbesarnya di dunia sastra dan ilustrasi sampai membuat  komik Supercondom, Minor Bacaan Kecil, illustrator untuk buku Salamatahari, proyek Panceg Dina Galur, dan beberapa buku lainnya, Toko Buku Rumah Daffa sampai membuat Komik Pamali yang sempat dibukukkan oleh sebuah penerbit besar,  

Sebenarnya saya bukanlah orang yang kenal dekat dengan sosok Norvan ini, tetapi entah kenapa malam ini saya sangat ingin sedikit menulis tentangnya dan keterlibatannya di band Sheath, tetapi sepertinya bukanlah sebuah kesalahan untuk mengingat seseorang yang karyanya patut dikagumi, walau bahkan saya baru bertemu dengannya beberapa kali, dan terlebih tak pernah sekalipun berbincang secara intens untuk sekalipun, entahlah…mmmh…tetapi anggap saja saya menulis ini untuk mengingat seorang Norvan Hardian a.k.a Si Pecandu Pagi dengan semua karya-karyanya yang sedikit banyak mungkin tetap akan hadir dalam ingatan kita.

Pertama kali waktu saya berjumpa dengan seorang Norvan adalah ketika circa 2004-2005 saya bersama teman-teman kuliah saya sedang sangat bersemangat untuk membuat majalah, dan di dekat kampus saya ada sebuah ruang baca, toko buku kecil atau sebut saja ruang kolektif bernama Rumah Daffa yang kemudian menjadi salah satu tempat distribusi majalah yang saya buat bersama teman-teman, yang dikelola  salah satunya oleh Norvan Hardian yang belakangan saya ketahui memiliki nickname Pecandu Pagi, dan dari sejak awal saya mendengar cerita tentang Pecandu Pagi, saya langsung tertarik dengan nama aliasnya, sebuah terminologi yang saya sangat sukai maknanya, bedanya saya sangat menyukai dini hari , karena saya meyaini bahwa dini hari ini adalah semacam waktu yang netral dan tak berpihak, karena merupakan sebuah masa dimana sudah terlalu larut untuk mengakhiri sesuatu, dan terlalu awal untuk memulai sesuatu, hingga kita hanya bisa menikmatinya saja tanpa pretensi dan tendensi apapun.

Saya kagum dengan kecintaan dia pada dunia komik. Seorang sosok muda yang sangat senang dan cinta terhadap dunia komik dan sastra dari bangku kuliah dan ada beberapa hal menggelitik yang masih saya ingat dari sosok Norvan sampe sekarang, yaitu ketika pertama kali bertemu di Rumah Daffa, ada sesuatu yang unik yaitu kursi kerjanya adalah sebuah kursi roda, ya…kursi roda untuk penyandang cacat, tanpa berniat mendiskriditkan para difable, menurut saya ini adalah hal yang lucu menggelitik dan menarik, kemudian satu lagi adalah ketika seorang teman sekamar kost saya memperlihatkan sebuah pin yang katanya adalah bikinan Norvan, yang menjadi lucu adalah pin itu adalah sebuah gambar tokoh revolusioner Che Guevara tetapi dengan sebuah tulisan dibawahnya yaitu Bob Marley, hmmm…..saya fikir hanya orang yang benar-benar Out The Box yang bisa membuat benda semacam ini, bhahahahaha………

Tetapi terkadang kreatifitas dan kejeniusan seseorang itu harus terenggut bahkan terhenti, dan alangkah terpukulnya saya ketika di akhir 2010, saya masih ingat waktu itu saya sudah pindah ke Jakarta untuk bekerja, saya mendengar kabar dari teman-teman di Bandung, bahwa Norvan si Pecandu pagi telah tiada, dipanggil ke haribaan-Nya dikarenakan penyakit kanker pankreas stadium akut, hingga akhirnya dia tiada pada 19 Desember 2010, dan sepertinya bukan kebetulan jika saya menulis tulisan ini di bulan yang sama pada saat sang Pecandu Pagi meninggal, sampai saat ini pun saya sangat yakin kalo Norvan telah memberikan inspirasi untuk saya khususnya dan banyak orang di luar sana, bahwa setiap detik yang dia curahkan untuk semua hal yang dia senangi dan untuk semua karya-karyanya akan tetap diingat selamanya.

Berikut petikan wawancara yang saya ambil dari jurnal ruang maya http://www.salamatahari.com/2010/11/mendoakan-norvan-pecandupagi.html antara Alm. Norvan dengan Sundea (salamatahari) yang juga merupakan seorang yang saya kagumi karya-karyanya, dan bukan tidak mungkin ini adalah wawancara terakhir Norvan sebelun dia meninggal.

Norvan Pecandupagi tahu persis ketika kata “salamatahari” pertama kali dicetuskan pada tahun 2003. Ia jugalah yang kemudian menawarkan ilustrasi untuk buku “Salamatahari” yang pertama, mengajak Dea bergabung dengan “Minor bacaankecil”, dan … menghadiahi nama “Sundea” kepada Dea. “Sundea artinya Dea matahari, Sunday Minggu, dan es krim Sundae, tiga hal yang menyenangkan,” kata pembuat komik “Supercondom” dan “Pamali” tersebut ketika itu.

Kini Norvan terbaring sakit karena kanker pankreas stadium 4. Wawancara yang kau baca ini dilakukan dengan balas membalas sms …

Norv, apa kabar?

Berjuang ikhlas karena Alloh ngelawan kanker ini …

Gimana keadaan lu sekarang?

Kanker pankreas stadium 4. Lambung luka-luka, usus bengkak, dan hati mengeras …

Moga-moga hati yang ngerasa banyak hal nggak mengeras juga, ya, Norv …

Amiiin … 

Norv, apa pendapat lu tentang Salamatahari?

Sahabat lama gue sampe sekarang …

Apa yang bikin lu waktu itu mau bikin ilustrasi buat Salamatahari?

Karena segala hal tentang Salamatahari itu menyenangkan, proses dan grasak-grusuknya jadi kaleum. Fun. Gue juga bangga sebagai yang pertama.

Gue juga bangga Salamatahari digambar sama elu, Norv. Apa moment favorit lu selama ngerjain Salamatahari?

Ngeraba-raba awalnya harus gaya kayak gimana. Gw lakuin di bis mau ke Bogor, ngunjungin cewek gue dulu di Bogor, terus gue diusir karena ada salah paham, tidur di terminal sambil baca-baca naskah Salamatahari, oret-oret, ngelamun, dingin … blablabla …

Jadi … yang mana moment favoritnya?

Dramatisnya itu, De, ada sedih, haru, setiap ingat itu …

Terus kalo moment yang paling nggak asik yang mana?

Gw sempet drop di tengah-tengah karena patah hati tadi … hehe. Ngurung diri di toko buku gue yang tutup terus, gelap, ga ada kehidupan, ga makan, ga ngapa-ngapain, norak bangetlah. Pemuda.

Hahaha … pantes, ya, ada masa elu susah banget dicari-cari dan Salamatahari 1 sempet terkatung-katung nasibnya. Terusyang bikin lu akhirnya keluar dari situasi galau itu apa?

Gue pindah kos ke Dago Timur bareng temen-temen. Suasana baru yang keren. Ngekos sama band gue, Sheat. Weed. Pemandangan mantap dan ninggalin Jatinangor yang busuk … hahahaha …

Hahaha … gelo lu. Terus di kos baru dapet inspirasi apa buat Salamatahari?

Banyak. Mulai dari halaman yang ditaro di gambar semut yang pindah-pindah tempat di tiap halaman, cover yang pake gambar awan beneran, dan banyak lagilah ….

Lu punya konsep tertentu buat keseluruhan ilustrasi Salamatahari?

Anak-anak cumi-cumi.

Hah? Maksudnya?

Pokoknya konsep kanak-kanak riang gembira tertawa-tawa hahahaha ….

Ada nggak lagu yang ngingetin lu sama Salamatahari?

“Lee Lou” / Sheath. Take-nya di tengah-tengah proses finishing buku itu. Lagunya tentang cinta seberang negara gitu.

Wehehehe … kalo hal yang ngingetin lu sama Salamatahari?

Perjuangan gue bangkit dari keterpurukan cinta … hahahaha …

Hahaha … terakhir, mau dikasih ucapan apa sama Salamatahari?

Doain gue cepat sembuh!

Pasti, Norv, setiap hari nggak akan putus …

Sebuah perasaan yang terletak di antara sedih dan damai terbit setelah Dea selesai menulis wawancara ini. Entah apa. Singkat. Karena “moment” memang selalu singkat namun biasanya menentukan banyak hal yang datang kemudian.

Semoga cepat sembuh, Norv-norv, kami semua sayang padamu …

Teman-teman, sambung rantai doa ini dengan doamu juga, ya …

Sundea

In memoriam, Norvan Hardian

(06.02.1979 – 19.12.2010)IMG_0084

Kita tak berada di kehidupan siapa-siapa kecuali diri kita sendiri.” Pecandu Pagi

Dan ketika saya menulis tulisan ini, saya ditemani oleh dua buah lagu dari Sheath, yaitu Final Romance dan Surgeon of a pleasant Dream, yang secara susah payah saya temukan di dunia maya.

Terima kasih Pecandu Pagi, terimakasih Sheath, terimakasih atas semua kenangan dan telah mengiringi kenangan,…..kenangan yang menemani saya tumbuh untuk menjalani dan membuat kenangan-kenangan baru……..

Dentingan suara Keyboard dan Harmonika itu akan selalu menjadi melodi di Surga menemanimu membuat karikatur Tuhan :)

Wallahu Alam………

*Link :

Sheath – Final Romance

Sheath – Surgeon of a pleasant dream

Iket Sunda dan makna filosofisnya

barangbang-semplak-iket-dalam1

“…saceundeung kaen” (Bujangga Manik, isi naskah baris 36)

Kalimat yang tertulis di atas merupakan sebuah penggalan yang terdapat dalam naskah kuno Bujangga Manik yang menceritakan perjalanan Prabu Jaya Pakuan, seorang Raja Pakuan Pajajaran yang memilih hidupnya sebagai resi. Naskah diperkirakan ditulis sekitar abad ke-14. Isi naskah terdiri atas 29 lembar daun nipah yang masing-masing berisi 56 baris kalimat, terdiri atas 8 suku kata.

Kalimat “…saceundeung kaen” mengandung arti selembar kain yang sering digunakan sebagai penutup kepala. Di tatar Sunda disebut totopong, iket, ataupun udeng. Pemakaian iket berkaitan dengan kegiatan sehari-hari ataupun ketika ada perhelaan resmi seperti upacara adat dan musyawarah adat. Untuk beberapa waktu, umumnya kain penutup kepala hanya disebut totopong, iket, atau udengtotopong, iket, atau udeng. Tidak ada bukti tertulis mengenai sumber sejarah tentang penamaan iket atau yang sekarang disebut rupa iket. Akan tetapi, dalam perkembangan zaman, penamaan untuk rupa iket menjadi bagian dari kebudayaan yang mengandung nilai dan makna tersendiri.

Penamaan atau rupa iket dikategorikan sesuai zamannya, yaitu iket buhun (kuno) dan iket kiwari (sekarang). Untuk iket buhun sendiri ada yang berupa bentuk iket yang telah menjadi warisan secara turun-temurun dari para leluhur, ada pula rupa iket yang lahir dari kampung adat. Sementara itu, untuk iket kiwari, iket tersebut merupakan rekaan dari beberapa orang yang memiliki rasa kebanggaan terhadap budaya iket buhun dan kreativitas dari nilai kearifan lokal.

Dalam perupaan iket, di dalamnya terkandung filosofi. Hal inilah yang membuat iket itu sendiri menjadi salah satu warisan leluhur yang mengandung nilai yang begitu tinggi adanya. Seperti filosofi yang terkandung dalam rupa iket Julang Ngapak yang konon dahulunya dipakai khusus oleh para pandita kerajaan atau disebut purahita.

Filosofi yang terkandung berdasar kepada laku hidup seekor burung Julang (Sundanese wrinkled hornbill). Tipe burung ini sebelum mereka mendapatkan sumber air tersebut, mereka tidak akan berhenti mencari. Karakter inilah yang diadopsikan menjadi simbol Julang Ngapak, yaitu bahwa kita jangan pernah lelah mencari sumber kehidupan (ilmu, darma, dan jatidiri) sebelum mencapai hasil yang diinginkan.

Iket atau Totopong (ikat kepala) itu sendiri mulai dikenal sekitar tahun 1450 Masehi atau pada masa Kerajaan Pajajaran. Awalnya, totopong dikenakan untuk melindungi kepala dari panas terik dan sebagai identitas diri.Pada masa perang kemerdekaan, totopong digunakan sebagai identitas para pejuang.

Pada era itu pula, totopong menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan. Totopong juga menjadi simbol pemersatu dan pengobar semangat orang Sunda kala itu.

Totopong merupakan ikat kepala terbuat dari kain polos atau kain batik. Ukuran kain pada umumnyasekitar 1 m2. Khusus totopong, memiliki ukuran setengah meter dan bentuk kain terbelah tengah secara diagonal atau sering dise-but setengah iket.

Totopong biasanya memiliki motif batik khusus, misalnya batik kangkung, kumeli, sida mukti, kawung ece, seumat sahurun, gjringsing, manyingnyong, katuncar mawur, kalangkang ayakan, dan porod, eurih. Sebagaimasyarakat agraris, para leluhur Sunda memanfaatkan totopong sebagai pelindung dari sengatan matahari dan gangguan hewan saat bekerja di sawah.

“Fungsi totopong sebagai simbol identitas diri dilihat dari pola mengikatnya. Bentuk ikatan totopong menunjukkan status sosial, cara mengikat totopong antara bangsawan dan rakyat berbeda. Setidaknya ada 22 cara mengikat totopong di kepala.

Beberapa model ikat misalnya yang paling sederhana, perengkos nangka. Biasanya dipakai oleh orangtua yang sedang tergesa-gesa, jadi cukup dibelitkan di kepala. Kalangan jawara atau jagoan, lain lagi ikat kepalanya, Mereka menggunakan model barangbang semplak atau kuda ngencar.

Ruparupaiketsunda

Macam-macam nama iket:

1. – Barangbang semplak, iket ini seperti barangbang (dahan kering) yang patah tapi masih nempel dipohon. Culannya hampir menutupimata. Bagian atasnya terbuka (terlihat rambut).Bisanyaiket model ini duludipakai oleh para jawara.

2. – Julang ngapak, bentuk iket ini seperti sayap burung terbang.Dipakai oleh para orang tua

3. – Kekeongan (di Banten disebutborongsong keong), bentuknya mirip seperti keong.

4. – Kuda ngencar, iket yangculanya dibelakang, ngampleh(tergerai) ke bawah. begitu mau ke bagian ujung (melengkung)naiklagi ke atas.

5. – Maung heuay, bentuk iket ini seperti mulut harimau yang sedang nganga (terbuka).

6. – Parekos nangka, bentukiket ini sangat sederhana (basajan). Biasanya dipakai oleh orang yang sedang tergesa-gesa.

7. – Porteng, iket yang culanya berdiri di depan, dan ujung-ujung kainnya digulung ke belakang.

8. – Talingkup, iket yang culanya didahi sampai menutupi mata. Talingkup artinya bisa menutupi.

iket menyimbolkan :

1. Syahadat

2. Sholat

3. Zakat

4. Puasa

5. Naik Haji (bagi yang mampu)

dilipat jadi segitiga

yg menyimbolkan :

1. Alif

2. Lam

3. Mim

kalau di satukan, dibaca jadi ALAM

kenapa ALAM ? padahal bisa saja ILMI, ILMU, ULUM atau ALIM?

tidak akan ada ILMI, ILMU, ULUM dan ALIM kalau tidak ada ALAM

Alam yang mana ?

Alam yang sudah,sedang dan akan terjadi

- yang di ciptakan Allah SWT

- yang dilakoni/dihuni oleh Nabi Adam as beserta keturunannya

- yang diakhiri oleh Rosulullah

lipat dalam beberapa lipatan yangrapih

besar kecilnya lipatan menyesuaikan besarnya pipi

menyimbolkan :

TARTIB (mendahulukan yang memang harus didahulukan, mengakhirkan yg diakhirkan)semua pekerjaan harus dilakukan secara dewasa dan sesuai kemampuan

diikat ke kepala, agar kita INGAT:

1. dari mana

2. lagi dimana

3. mau kemana

P1060917

Iket merupakan kekayaan budayatutup kepala tatar Sunda. Selain iket, urang Sunda mengenal beragam tutup kepala lainnya: mahkota, tudung/cetok, dudukuy,kerepus/kopiah, peci, topi, dll. Tapi, yang masih erat dan langgeng dipakai dalam keseharian sampai sekarang –hususnya yang terdapat di masyarakat adat (Baduy, Ciptagelar, Kampung Naga, dll)– adalah iket.

Menurut Ralph L. Beals dan HarryHaijer dalam bukunya An Introduction to Antropology, tutup kepala merupakan bagian kelengkapan busana suatu kelompok, yang bahan dan modélnya sangat besar dipengaruhi oléh lingkungan dan budaya yang mempunyai fungsi praktis, éstétis, dan simbolis.

Fungsi praktis merupakan alat penutup dari panas, hujan, bendayang membahayakan, serta pembungkus barang dan makanan. Fungsi estetis sebagai aksesoris (life style). Sedangkan fungsi simbolis merupakan ciri untuk membedakan identitas dengan suku lain, serta terkandung nilai-nilai luhur kajembaran palsafah hidup.

Bukti masyarakat Sunda erat dengan tutup kepala yaitu adanya mahkota Binokasih peninggalan Kerajaan Pajajaran, yang kemudian diwariskeun kepada Kerajaan Sumedanglarang(sekarang menjadi koléksi Museum Geusan Ulun, Sumedang). Sedangkan iketterdapat pada arca megalitik di Cikapundung (sekarang daerah Kebun Binatang, Bandung), yang bentuknya menyerupai kepala memakai iket.

Dalam kehidupan masyarakat Sunda bihari/dulu, kelengkapan busana, termasuk iket, merupakan pembeda antara golongan ménak/bangsawan dan cacah/ rakyat biasa. Khusus untuk iket, yang membedakannyaadalah bahan, corak/ motif, dan beulitan/rupa iket. Golongan ménak menggunakan bahan kain batik halus dengan motif tertentu—réréng dan gambir saketi— yang menunjukkan stratasosial tinggi (feodalis). Sedangkan golongan cacah biasanya menggunakan kain batik sisian/batik kasar dan polos hitam/ iketwulung.

Falsafah dan rupa iket

Secara filosofis, iket berasal darikata saiket/satu ikatan, artinya sauyunan dalam satu kesatuan hidup. Ibarat lidi, jika sehelai tidak mempunyai fungsi, tapi jikadibentuk menjadi satu ikatan sapu, maka akan mampu membersihkan apa pun. Begitu pula manusia berlaku individual, tentu berat menghadapi suatu masalah. Lain ceritanya jika dilakukan bersama. Iket juga menandakan agar pemakainya tidak ingkah (lepas) dari jati diri Kasundaan.

Kepala merupakan subjek yang diikatnya, dan persoalan yang datang dari luar dan dalam dirinya merupakan objek yang harus dihadapi. Agar hidup senantiasa caringcing pegeuh kancing, saringset pageuh iket (siap menghadapi segala kondisi dan situasi).

Bagi urang Sunda, penghargaan terhadap kepala begitu luhur karena fungsinya sangat vital bagi kehidupan. Kata pamali merupakan larangan keras jika seseorang memukul atau menepuk kepala orang lain sekalipun. Hal tersebut bisa ditemukan dalam berbagai istilah keseharian; huluwotan (mata air),hulubalang (pengawal raja), panghulu (penghulu), sampai digunakannya dalam peribahasa; gedé hulu (sombong), asa dicabakhulu (merasa dipermainkan), teu puguh hulu buntutna (tidak jelas urusannya), nepi ka nyanghulu ngalér (sampai mati), dsb.

Motif dalam iket dibagi menjadi empat bagian, yaitu pager, modang, waruga, dan juru. Pageradalah motif yang ada di sekeliling iket. Modang, bentuk kotak pada bagian tengah iket. Waruga, bagian tengah iket yangpolos. Serta juru merupakan motif yang ada di setiap sudut iket. Sedangkan bentuk iket adadua bagian, yaitu persegi dan segitiga. Sebernarnya senua bentuk iket persegi, menjadi segitiga karena dilipat atau dipotong dari bentuk asli untuk mempermudah pemakaian.

Dua bentuk ini mempunyai falsafah hidup. Bentuk persegi menunjukkan hidup masagi/sempurna dalam arti pemikiran, dengan siloka opat kalima pancer atau opat pancer kalima diri urang. Pancer menunjukkan empat madhab/arah(utara, selatan, timur, barat) danbahan yang menjadi dasar kehidupam (tanah, air, angin, api).

Bentuk persegi juga terdapat di tengah motif/modang, yang selaluberlawanan dengan bentuk iket (diagonal), untuk membedakan dengan kain lain yang sejenis. Jikaiket dilipat jadisegitiga, bentuk modang ini akanlurus (horizontal).Hal ini menunjukkan kapancegan/konsistensi pandangan hidup. Danbentuk segitiga sendiri adalah kesamaan konsep tritangtu (ratu, rama, resi) yangharus dimaknai secara luas.

Rupa iket awalnya hanya dikenaltujuh bentuk pemakaian. Tapi, seiring dengan kreatifitas masyarakatnya, rupa iket semakin bervariasi, antaranya barangbang semplak, parékos/paros (parékos/paros nangka, jéngkol, gedang), koncér/paitén, julang ngapak, lohén, ki parana, udeng, pa tua, kolé nyangsang, porténg, dll.

Dari rupa iket dapat menunjukkan golongan, saperti rupa iket barangbang semplak (diCirebon disebut iket mantokan urung ceplakan) biasa dipakai oleh jawara, kuda ngencar untuk remaja, parékos/poros (di Cirebondisebut iket duk liwet) dipakai kaum tua untuk kegiatan ritual, porténg dipakai untuk kegiatan sehari-hari dalam bekerja, dan udeng dipakai golongan ménak.

Bukan sekadar gaya

Iket merupakan warisan budaya yang luhur nilainya, harus kukuh dipegang sebagai wujud simbolis keutuhan hidup. Begitu juga bagiurang Sunda sendiri, apakah hanya membanggakan luarnya saja sebagai bentuk indentitas, atau lebih mementingkan isinya. Menurut Dr. Ir. Thomas NIX, peneliti dari Belanda (Stedebouwin Indonesia Rotterdam, 1949), leluhur masyarakat Indonesia, hususnya Pulau Jawa, sudah mewasriskan kearifan lokal dalamsegala unsur kehidupan.

Nu lima diopatkeun, nu opat ditilukeun, nu tilu diduakeun, nu dua dihijikeun, nu hiji jadi kasép (yang lima dijadikan empat, yangempat dijadikan tiga, yang tiga dijadikan dua, yang dua dijadikansatu, yang satu jadi tampan), kalimat yang diucapkan budayawan Jakob Sumarjo ini, tentunya harus direnungi bagi setiap pemakainya. Bukan sekedar gaya, tapi harus dipahami makna dibalik lipatannya.Ketika dari lima menjadi satu, maka individu berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan yang satu.

Melihat fenomena yang muncul kini, iket semakin tren di kalangan anak muda. Dengan berbagai motif dan gaya pemakaian. Bisa jadi dilatarbelakangi oleh kerinduan terhadap nilai tradisional yang semakin tergerus oleh modernisasi. Atau hanya sekedarpencitraan identitas tanpa pemaknaan.

Meskipun demikian, harus jadi kebanggaan bersama dengan diarahkan pertanggungjawabannya. Bahwa mengenal dan memaknai kembali kebudayaan Sunda tidak harus secara paksa. Tapi, diawali dengan kesadaran kecintaan melalui iket. Dengan cara itu, ikettidak akan kalah dengan ikat kepala/syal bergambar grup musik barat.

Makna Filosofis Dalam “Iket” Sunda

Generasi muda saat ini banyak yang gandrung dengan pemakaian “iket“. Mereka memilikicara pandang yang berbeda dalam membentuk “iket”,tetapi tetap memiliki acuan terhadap satu garis penciptaan karya “buhun” (kuno)

“…saceundeung kaen” (Bujangga Manik, isi naskah baris 36)

Penggalan kalimat tertulis di atas terdapat dalam naskah kuno Bujangga Manik yang menceritakan perjalanan Prabu Jaya Pakuan, seorang Raja Pakuan Pajajaran yang memilih hidupnya sebagai resi. Naskah diperkirakan ditulis sekitar abad ke-14. Isi naskah terdiri atas 29 lembar daun nipah yang masing-masing berisi 56 baris kalimat, terdiri atas 8 suku kata.

Kalimat “… saceundeung kaen ” mengandung arti selembar kain yang sering digunakan sebagai penutup kepala. Di tatar Sunda disebut totopong , iket , ataupunudeng . Pemakaian iket berkaitandengan kegiatan sehari-hari ataupun ketika ada perhelaan resmi seperti upacara adat dan musyawarah adat. Untuk beberapa waktu, umumnya kain penutup kepala hanya disebut totopong, iket, atau udeng totopong , iket , atau udeng . Tidak ada bukti tertulis mengenaisumber sejarah tentangpenamaan iket atau yang sekarang disebut rupa iket . Akantetapi, dalam perkembangan zaman, penamaan untuk rupa iket menjadi bagian dari kebudayaan yang mengandung nilai dan makna tersendiri.

Penamaan atau rupa iket dikategorikan sesuai zamannya, yaitu iket buhun (kuno) dan iket kiwari (sekarang). Untuk iket buhun sendiri ada yang berupa bentuk iket yang telah menjadi warisan secara turun-temurun dari para leluhur, ada pula rupa iket yang lahir dari kampung adat. Sementara itu, untuk iket kiwari , iket tersebut merupakan rekaan dari beberapa orang yangmemiliki rasa kebanggaan terhadap budaya iket buhun dan kreativitas dari nilai kearifan lokal.

Bahkan, beberapa rupa iket kiwari itu sendiri masih memiliki ciri yang mengacu pada pola rupaiket buhun . Beberapa nama rupa iket buhun yang dikenal olehsebagian besar umumnya adalah Barangbang Semplak , Parekos Jengkol , Parekos Nangka , dan Julang Ngapak . Parekos atau paros memiliki arti “menutup”. Yang berarti tipe rupa iket yang menutup bagian atas kepala atauhampir membungkus.

Dalam perupaan iket , di dalamnyalerkandung filosofi. Hal inilah yangmembuat iket itu sendiri menjadi salah satu warisanleluhur yang mengandung nilai yang begitu tinggi adanya. Seperti filosofi yang terkandung dalam rupa iketJulang Ngapak yang konon dahulunya dipakai khusus oleh para pandita kerajaan atau disebut purahita .

Filosofi yang terkandung berdasar kepada laku hidup seekor burung Julang ( Sundanese wrinkled hornbill ). Tipe burung ini sebelum mereka mendapatkan sumber air tersebut, mereka tidak akan berhenti mencari. Karakter inilah yang diadopsikan menjadi simbol Julang Ngapak, yaitu bahwa kita jangan pernah lelah mencari sumber kehidupan (ilmu, darma, dan jatidiri) sebelum mencapai hasil yang diinginkan.

Di luar rupa atau penamaannya, iket Sunda sendiri mengandung nilai makna filosofi yang dikenal dengan sebutan Dulur Opat KalimaPancer . Dulur Opat merupakan empat inti kehidupan yaitu api, air, tanah, dan angin. Dan Kalima Pancer mengandung makna yaitu berpusat pada diri kita sendiri. secara garis besar, Dulur Opat Kalima Pancer memiliki arti bahwa empat elemen inti tersebut terdapat pada diri kita dan berpusat menyatu sebagai perwujudan diri.

Mengenai iket kiwari yang telah berkembang saat ini, penamaan dan bentuk tetap berdasar kepada pola rupa iket buhun. Tanpa mengurangi nilai luhur dari warisan leluhur, begitu pun iket kiwari memiliki nilai-nilai filosofi di dalamnya. Hal inilah yang menjadi bagian dari pelestarian budaya yang bersifat kreatif, tetapi tetap memegang teguh nilai kearifan lokalnya. Terutama di kalangan generasi muda. Mereka memiliki cara pandang yang berbeda dalam membentuk iket tetapi tetap memiliki acuan terhadap satu garis penciptaan karya buhun (kuno).

Komunitas Iket Sunda (KIS) sendirimerupakan bentuk kreativitas sebagai wadah dalam melestarikan dan memperkenalkan budaya iket terhdap kalangan mmuda.

Keberkaitan

Didalam konteks keberagaman, sesungguhnya ada keberkaitan erat antara nilai-nilai filosofi iket dengan fungsi penutup kepala dalam kaitan nilai Islam. Fungsi dari iket menurut Islam umumnya adalah bisa digunakan sebagai sajadah, pengganti tutup kepala. Hal itulah yang membentuk hubungan antara manusia dan Allah Yang Pencipta yang disebut hablumminallah . Fungsi sebagai hablumminanas adalah iket sebagai penyambung silaturahmi berdasarkan warisan budaya daniket sebagai bagian dari cara saling memberi ilmu pengetahuan.

Dalam dunia Islam, dikenal serban atau sorban sebagai penutup kepala, sebagai bagian dari kelengkapan dalam salat atau beribadah. Memakai serban bagi umat Muslim adalah sunnah Nabi. Dalam beberapa hadis riwayat para sahabat Nabi Muhammad saw, mereka menceritakaan bahwa Nabi selalu menganjurkan agar memakai penutup kepala sebagai bagian dari kelengkapan pakaian salat dan bahkan di luar salat.

Di tatar nusantara sendiri, kita mengenal Wali Songo. Dari beberapa sumber sejarah, kesemuanya memakai penutup kepala. Menurut Oom Somara de Uci, sejarawan dari Rahagaluh, dahulu model rupa iket para wali diadopsi dari rupa iket Cakraningrat yang merupakan warisan Prabu Cakraningrat yangmemiliki kekuasaan kerajaan sekitar Rajagaluh majalengka. Iketyang dikemudian hari disebut iketCakraningrat Rajagaluh ini mengandung nilai filosofi yaitu iket yang melindungi mustika ; mastaka (kepala).

Ini bisa bermakna, mustika ini adalah kepala kita yang memiliki sumber dari sifat dan sikap kita di dunia dari sudut pandang manusia yang memiliki otak sebagai akal pikiran yang bisa memilih mana yang baik dan buruk. Bahkan, dalam perkembangan waktu, model iket Cakraningratini disebut pula iket para wali.

Perbedaan i ket Cakraningkat ini dengan iket Sunda lazimnya yaituterlihat dari model kainnya. Iket Sunda pada umumnya berupa kain segi empat, sedangkan iket Cakraningrat ini memakai kain persegi panjang sejenis karembong (selendang). Cara pemakaiannya rata-rata hanya diselipkan, tidak diiket atau ditali.Cara yang sama seperti pemakaian serban di kepala. Memang tidak ada sejarah tertulis sebagai bukti yang mendukung tentang iket Cakranignrat ini, tetapi perbedaannya menjadi bagian dari kekayaan budaya Sunda.

Filosofi Iket / Totopong

HUKUM PANCADHARMA :

1. Apal jeung hormat ka PURWADAKSI DIRI (Menyadari dan menghormat kepada asal usul diri)

2. Tunduk kana HUKUM jeung ATURAN (Tunduk akan hukum dantata tertib/ aturan)

3. Berilmu (DILARANG BODOH…!)

4. Mengagungkan SANG HYANG TUNGGAL (Allah SWT)

5. Berbakti kepada BANGSA dan NEGARA (Nusantara yg sesungguhnya, bukan Indonesia hari ini)

LIMA HUKUM yang menjaga perilaku BANGSA SUNDA”dititipkan”melalui POLA IKET/TOTOPONG,maka IKET KEPALA bukan sekedar GAGAYAAN.

Wujud wastrana totopong bisa segi opat atawa segi tilu.

Juru anu opat, ngawakilan dulur 4 ka 5 pancer :

1. Amarah

2. Lowamah

3. Sawiyah

4. Mutmainnah.

Ari pancerna nya di lambangkeun ku Modang segi opat di tengahnamaksudna diri pribadi sewang-sewangan.

Segi tilu perwujud tina hukum Tritangtu :

1. Karama’an

2. Karatuan

3. Karésian ( agama )

Ikét dipasangna dina mastaka, kulantaran dina mastaka aya mustika (tempat ngolah sagala rupa pamikiran antara hade jeung goreng, kudu jeung hénteujeung sajabana, anu tungtungna diputuskeun ku pancér hasil tina urun rembug antara dulur nu opat.

*Pelbagai Sumber

Motor Pak Pos itu… (Part 1)

Suzuki A100 sang motor Pak Pos…
Suzuki A100 adalah salah satu kendaraan roda dua yang memiliki ciri khas motor yang diproduksi oleh Jepang pada pada circa tahun 1960 lalu dan awal 70-an. Yaitu  kecil, lincah,  hemat bahan bakar, dan biasanya cukup handal. A100 ini juga menjadi sangat populer sebagai kendaraan komuter yang nyaman dan murah. Seperti umumnya banyak sepeda motor klasik buatan Jepang lainnya, A100 “terinspirasi” dari model serupa di seluruh China dan Timur Jauh. Dengan kata lain anda bisa membeli sebuah sepeda motor Suzuki AX100 di India rakitan tahun 1980-an dan spesifikasi yang sama akan anda temukan pada motor serupa lansiran tahun 70-an.
Suzuki A100 ini didukung oleh mesin berkapasitas 98cc yang menghasilkan daya puncak sebesar  9,3 dayakuda pada 7500 rpm. Memang bukan termasuk kencang untuk sepeda motor yang beratnya hanya 83 kg ini. Silinder tunggal dan mesin dua langkahnya memiliki katup rotari yang dirancang untuk mengisi daya di semua putaran mesin. Suzuki juga memiliki sistem pompa oli otomatis atau disebut dengan CCI untuk melumasi mesin.
A100 memiliki model speedometer yang sederhana, ringkas dan mudah dipantau dengan semua indikator utama tersusun rapi di sekitarnya. Hal ini memungkinkan untuk para pengendaranya untuk cepat memahami kondisi mesin dengan baik. Roda penggeraknya memakai ukuran 2,50 x 18 yang cukup efektif untuk menjaga traksi roda tetap stabil, model rem depan-belakang sistem teromol (drum-brakes).

6_suzuki-a100Suzuki A100

Dalam kurun waktu produksi 1974-1980, Suzuki A100 memang hanya ditawarkan dalam model rem teromol (drum-brakes) pada kedua rodanya. Cukup nyaman untuk motor dengan tenaga maksimum 70 km/jam.

Suzuki A100, pada perkembangannya merupakan produk massal yang sangat populer. Namun pada perkembangannya tidak ada perubahan besar yang dilakukan, selain beberapa perubahan minor dari segi tampilan. Hanya terbatas pada menambah varian warna, model tangki bahan bakar dan perlengkapan aksesoris lainnya, hal ini mungkin untuk menarik konsumen pengendaranya.
Mengingat perjalanan sejarahnya, sebenarnya saat ini Suzuki A100 dapat memenuhi syarat untuk menjadi kendaraan bebas pajak karena sudah tergolong kedalam Kendaraan Bersejarah yang memiliki sejarah panjang. Di beberapa negara eropa sendiri, seperti di Inggris, pemilik individu dan kolektor masih mengendarai Suzuki A100 untuk dipakai sebagai kedaraan sehari-hari untuk bekerja atau bersantai di akhir pekan. Dengan dasar teknologi mesin yang handal,  Suzuki A100 sangat mudah untuk dikendarai.
Dan khusus untuk di Indonesia sendiri Suzuki A100 merupakan motor Suzuki pertama yang diperkenalkan bersama dengan FR 70 pada tahun 1970an. (*)

1974_A100_sales_Luce_860Brosur Suzuki A100

*Mesin

Tipe mesin : 2 tak, berpendingin udara, katup rotary

Volume silinder : 98cc

Diameter x Langkah : 51 x 48 mm

Daya maksimum : 9.3 hp/7500 rpm

Torsi maksimum : 0.95 kg-m/6500 rpm

Transmisi : 4 tahap, constant mesh

Sistem pelumasan : CCI

*Dimensi

P x L x T : 1.830 x 760 x 1.010 mm

Wheelbase : 1.200 mm

Berat kosong : 83 kg

Kapasitas tangki bensin : 7 L

Ban depan : 2.50/18″ – 4PR

Ban belakang : 2.50/18″ – 4PR

*Pelbagai Sumber

Mang Ayi dan cerita dibaliknya…

Sebulan belakangan ini saya sedang sangat sibuk berburu sebuah tipe sepeda motor, sebuah tipe kendaraan yang mungkin untuk orang kebanyakan adalah sebuah kendaraan yang out of date ketinggalan jaman, kampungan atau apapun itu, namanya Suzuki A100 atau di Indonesia sangat dikenal dengan nama Motor Pak Pos dikarenakan kendaraan ini sudah dipakai oleh Instansi Pos dan Giro dari sejak lama.

Otomotif sudah menjadi hobby saya sejak lama, saya bisa melupakan segala hal ketika sedang asyik dengan hobby saya yang satu ini, dan dimulai dari sebulan belakangan ini entah karena sebab apa saya bisa tergila-gila dengan motor Suzuki A100 ini, padahal sebelumnya saya merupakan pecinta motor negeri Pizza alias Vespa.

Mungkin karena pada dasarnya adalah karena saya adalah seorang yang menyukai hal-hal yang klasik dan vintage sehingga saya sangat antusias jika sedang menggali barang-barang klasik, dan awal ketertarikan saya terhadap motor Suzuki A100 ini adalah berawal dari cita-cita saya untuk memiliki kendaraan roda dua selain Vespa, karena belakangan saya sudah agak jenuh mengkulik Vespa, saya butuh penyegaran dan distraksi lain yang baru, begitu pikir saya pada awalnya, sehingga saya pun mencari tipe varian sepeda motor yang benar-benar saya inginkan selain dari vespa, dan pilihannya pun jatuh kepada Suzuki A100, banyak pertimbangan saya hingga akhirnya memutuskan untuk memilih Suzuki A100 sebagai motor pilihan saya selain Vespa, disamping bentuknya yang klasik, kapasitas mesin yang tidak terlalu besar, motor ini juga memiliki tipe mesin dua langkah yang merupakan tipe mesin favorit saya, disamping hal itu saya berfikir bahwa motor Suzuki A100 ini juga harganya masih masuk akal untuk saya miliki, akhirnya diputuskan bahwa saya memilih Suzuki A100 sebagai kendaraan pilihan saya selain Vespa.

Processed with VSCOcam with m5 presetMang Ayi

Termasuk cukup lama saya berburu motor ini, hingga akhirnya awal bulan November ini saya menemukan sebuah motor Suzuki A100 yang pas, dan akhirnya saya menebusnya dengan harga yang lumayan bagus dan kondisi yang cukup prima untuk sebuah motor keluaran 90 awal, dan atas bantuan dari sahabat terbaik saya yang sangat piawai bernegosiasi dengan sang pemilik motor, akhirnya kelak sebuah Suzuki A100 yang saya beri nama Mang Ayi ini bisa saya miliki.

Mang Ayi itulah nama yang saya berikan kepada motor ini, karena setiap saya memiliki kendaraan pasti akan saya beri nama dan akan saya anggap sebagai teman, saya berfikir untuk memberi nama dari bahasa sunda yaitu Mang Ayi yang bermakna sebuah sebutan untuk orang yang lebih tua tapi belum menikah, semacam “oom” dalam bahasa Indonesia.

Bersambung…..

LAMPAH

110280094_f3b781cd78_b

Gapura mendak hareupan

hirup samakmur muncangan

lempang ngudak panileungan

muruh waktu satangtungan

ngudak lampas saamparan

lemah mernah keun amarah

suci asih eman rasa

warungga mendakan jiwa

tungkul ka bumi sajati

sarakan mulang wasila

gumuruh minuhan waktu

halimun numbukeun umur

subur lembur pangebonan

seah kamulyaan diri

seah kamulyaan diri

diri asih kadirina

sampurna lampa hirupna

sujud waktu cunduktumut

bapagon bengkeutan sangu

alam ngadangding peteni

Allah mahakeun kawening malati asih ka diri

gumuruh minuhan waktu

halimun numbukeun umur

subur lembur pangebonan

seah kamulyaan diri

seah kamulyaan diri

diri asih kadirina

sampurna lampa hirupna

sujud waktu cunduktumut

bapagon bengkeutan sangu

alam ngadangding peteni

Allah mahakeun kawening malati asih ka diri

Serenade

Itulah sebuah judul lagu yang dilantunkan oleh dua penyanyi kebanggaan Indonesia, dan sangat saya kagumi karya-karyanya, yaitu Iwan Fals dan Rita Ruby Hartland (Rita Ruby Adiwidjadja), dalam idealisme bermusiknya keduanya memiliki intens terhadap interest yang hampir serupa, Iwan Fals dan Rita Ruby Hartland (Rita Ruby Adiwidjadja) adalah penyanyi yang mengusung musikalitas irama country, balada,  yang bertemakan kritik-kritik sosial, lantang menyuarakan kecintaan terhadap alam dan keprihatinan terhadap kondisi bangsa ini, namun di lagu ini mereka sedikit melunak dengan membawakan lagu bertema percintaan, namun dibalut dengan lirik yang sangat puitis dan sastrawi karya Yapi Panda Abdiel Tambayong atau kita dikenal dengan Remy Sylado, seorang sastrawan Indonesia yang sudah tak perlu diragukan lagi kemampuannya dan sudah berkecimpung di dunia jurnalistik, musik, seni rupa, teater, film, sudah sejak lama.

Di lagu ini Remy Sylado yang juga dikenal sebagai seorang Munsyi, ahli di bidang bahasa, mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa. Menurut beberapa informasi, judul asli lagu ini sebenarnya “Serenade”, tapi sebagian fans Iwan Fals memberi judul pada lagu ini “Anyelir”, mungkin karena di bagian liriknya ada kata “Anyelir” .

Tak banyak yang mengetahui bahwa di lagu ini Iwan Fals ikut menyumbangkan suara emasnya dikarenakan lagu ini terdapat di album Rita Ruby Hartland (Rita Ruby Adiwidjadja) yang berjudul Wajib Belajar (Dua Minat) dan dirilis oleh Musica Studio’s pada tahun 1985, namun sayang sekali lagu Serenade ini tidak diekspose di sampul kaset, padahal lagunya berkualitas dan mempunyai nilai sastra yang sangat kental.

Album Wajib Belajar

Penyanyi : Ritta Rubby Adiwijaya
Produksi : Musica Studio’s
Tahun : 1985
Link Video :

Lirik Lagu :

SERENADE

(Remy Sylado)

Kudatang padamu
Ketika anyelir ditaman masih berkerudung embun
Diambang malamku
Selaksa kemelut bermain tanpa terali
Khayalku berarak
Kutawar buatmu mungkin kau minat menjamah nya
Dibawah letak hidung mu
Aku minta tempat sila
Dengan segudang kata cinta
Pabila suatu saat umurku dipacu waktu
Merdekalah dari kungkungan mimpi
Kicau apa gerangan yang meradang ini
Keluh kesah atau nyanyian pecundang
Malam masih yatim piatu yang melenggang
Namun tak urung madahmu tangkas menyusup
Kau giringkan rentet cinta bermandi tangis
Astaga…!
Terpukau aku pada dusta yang setia
Kuharapkan tangan
Yang bisa menggapai hatiku yang terbengkalai ini
Diambang kangenku
Akulah pangeran atas segala nestapa
Gerimis yang ungu
Perlahan menitik didalam gugusan harapan
Dibawah letak hidungmu
Aku minta tempat sila
Dengan segudang kata cinta
Pabila suatu saat umurku dipacu waktu
Merdekalah dari kungkungan mimpi
Link :